Papuma Jember

DSC_0164

Akhirnya hunting foto ke Papuma bersama saudara seperjuangan AFO Unesa terlaksana sudah. Mungkin bagi saya sudah sekian tahun sejak keluar dari Surabaya dan stay di Bali, susah untuk hunting foto rame-rame yang menjadi kebiasaan kami waktu kuliah dulu. Naik gunung, tidur ditenda, menjelajah kemana-kemana menjadi sebuah kerinduan tersendiri. Yah begitulah usia dan aktifitas menjadi kendala hampir meninggalkan aktifitas tersebut.

Untuk hunting dadakan kali ini, kami ber enam dan berasal dari beberapa “kasta”, maksud kami beberapa angkatan tahun di club foto AFO Unesa, dan saya lah yang termuda (semoga tidak ada yang interupsi) berangkat dari Surabaya menuju Jember sebenarnya dengan dua tujuan yaitu menghadiri nikahan alumni dan embel-embel hunting foto di Papuma. Berangkat jam 12 malam dan sampai di Papuma 30 menit sebelum adzan subuh atau tepatnya sekitar jam 03,45 pagi. Alhamdulilah cuaca sedikit mendukung dan akhirnya kita dapat melihat rona jingga dari sisi tebing sebalah timur pantai Papuma.

IMG-20160712-WA0015

Berikut saya copas dari wikipedia untuk story dan informasi mengenai Paupuma, biar lebih formal bahasanya.

Kata “Papuma” berasal dari akronim Pasir Putih Malikan. Sesuai dengan namanya Pantai Tanjung Papuma adalah sebuah penjorokan daratan ke laut dengan pantai pasir putih. Tidak hanya pasir putih yang terdapat di Papuma, batu-batu hijau, hitam, dan putih beraneka bentuk terhampar di sisi barat Papuma yaitu Pantai Malikan. Inilah perbedaan Papuma dengan pantai- pantai di sekitarnya. Di timur Papuma ada Pantai Watu Ulo dan Pantai Payangan yang berpasir hitam. Perbedaan ini mampu mendatangkan pengunjung lebih banyak ke Papuma dari pada Watu Ulo dan Payangan.

Berwisata ke pantai merupakan hal yang sangat menyenangkan. Lingkungan yang tenang, semilir angin, dan debur ombak selalu mengiringi tiap kegembiraan yang dihadirkannya. Kegembiraan itu akan semakin lengkap jika di sana terdapat aneka ragam flora fauna. Kicau burung, celoteh monyet, warna-warni serangga melengkapi suburnya tetumbuhan khas pantai. Tanjung Papuma adalah salah satu tujuan wisata di Kabupaten Jember yang mampu menyuguhkan keindahan tersebut.

DSC_0138

Lokasi

Wana Wisata Tanjung Papuma adalah salah satu kawasan wisata unggulan Kabupaten Jember yang terletak kurang-lebih 40 km sebelah selatan kota Jember. Tempat ini terletak di Desa Lojejer Kecamatan Wuluhan. Menggunakan kendaraan pribadi, baik mobil maupun motor, perjalanan kesana memerlukan waktu antara 60 hingga 90 menit dari Kota Jember, lima sampai enam jam dari Surabaya atau Malang, dan tujuh sampai delapan jam dari Denpasar Bali.

Bagi anda yang datang dari Surabaya dan malang disarankan untuk berangkat jam 11 atau 12 malam agar anda dapat menikmati Sunrise/matahari terbit. Jangan khawatir tersedia fasilitas musholla untuk sholat shubuh atau sekedar rehat sejenak sampai menunggu matahari terbit.

DSC_0098

Transportasi

Ada tiga alternatif jalan menuju Pantai Papuma. Jalur pertama adalah sekitar 3 km jalan belum beraspal tembus langsung menuju ke loket masuk. Jalur ini terletak di sebelah selatan Gunung Watangan. Gunung Watangan merupakan salah satu gunung paling selatan Kabupaten Jember. Gunung ini terletak di utara Pantai Papuma dan Watu Ulo. Ujung timur gunung ini memasuki wilayah Kecamatan Ambulu. Bagian tengahnya berada di Kecamatan Wuluhan, Ujung baratnya merupakan wilayah Kecamatan Puger. Ada jalan yang cukup lebar untuk sebuah mobil. Sayangnya, di kurang lebih kilo meter kedua jalan ini terdapat lokasi rawan longsor bila terjadi hujan lebat.

Jalur kedua melalui Pantai Watu Ulo yang merupakan wilayah Kecamatan Ambulu. Sebelum memasuki kawasan wisata Tanjung Papuma, pengunjung melewati Pantai Watu Ulo yang terletak di timur Tanjung Papuma. Jalan halus beraspal memudahkan akses Pantai Papuma. Tempat wisata Pantai Watu Ulo lebih dulu dikelola sebelum Tanjung Papuma dibuka untuk umum. Mungkin karena itulah – selain perbedaan wilayah kecamatan – pengunjung harus membayar tiket masuk  di loket masuk Pantai Watu Ulo walaupun hanya bertujuan ke Pantai Papuma. Sebab itu, pengunjung Papuma banyak tidak melalui jalur ini.

Jalur terberat adalah jalur ketiga. Perjalanan ini melalui pusat Kecamatan Wuluhan. Kecamatan Wuluhan terletak kurang lebih tujuh kilometer arah barat Kecamatan Ambulu. Dari pusat Kecamatan Wuluhan (Kantor Polsek Wuluhan), perjalanan ke selatan sejauh tiga km melalui Desa Ampel hingga pertigaan paling selatan, lalu belok kiri (ke timur) hingga Dusun Pomo. Kemudian, perjalanan dilanjutkan ke selatan (belok kanan) menuju Hutan Grintingan/Gunung Watangan. Jalan ini tidak dapat dilalui mobil. Hanya motor dan sepeda yang bisa melaluinya. Bahkan ketika musim hujan, jalur ini hanya dapat dilalui oleh pejalan kaki, karena jalan berlumpur. Sebenarnya jalur ini sudah halus diaspal. Namun, karena kurang adanya perawatan maka jalan ini sebagian telah rusak akibat longsor. Jarak dari Pusat Kecamatan Wuluhan hingga loket masuk Tanjung Papuma melalui jalur ini sekitar 10 km, dengan estimasi waktu tempuh 30 menit menggunakan motor karena beratnya medan. Walaupun berat, jalur terakhir ini menawarkan keelokan hutan dengan latar belakang Pantai Watu Ulo dan birunya Laut Selatan yang terlihat indah dari celah-celah pepohonan. Beberapa jenis burung menyambut kedatangan pengunjung dengan keindahan siulannya, lebih-lebih jika hari masih pagi.

Fasilitas

Sesampainya di loket masuk, pengunjung harus membayar tiket masuk sebesar Rp. 15,000 per orang dan Rp. 17,500 pada musim liburan. Biaya tersebut sudah termasuk asuransi kecelakaan. Dari sini perjalanan tinggal sekitar 10 menit lagi menggunakan kendaraan pribadi. Pengunjung harus melalui jalan mendaki dan menurun sejauh kurang lebih dua km. Sepanjang perjalanan disuguhkan pemandangan hutan nan elok. Pantai Papuma sesekali terlihat melalui sela-sela pepohonan di bukit dengan ketinggian sekitar 150 mdpl (meter di atas permukaan laut).

Jalan menuju Papuma juga digunakan untuk mengakses Gua Jepang dan Guwa Lowo yang berada di sebelah kiri jalan. Untuk mencapai guwa, pengunjung harus melalui jalan setapak yang menurun tajam, karena guwa-guwa tersebut terletak di tebing terjal pantai. Guwa Jepang merupakan tempat pengintaian Tentara Jepang pada masa Perang Dunia Kedua. Guwa Lowo (Jawa: kelelawar) menurut legenda adalah tempat bersemayam putri penguasa laut selatan “Dewi Sri Wulan” dan tempat bertapa Kyai Mataram.

DSC_0206

Di Pantai Papuma, terdapat tempat parkir luas di sebelah kanan jalan masuk. Mobil bisa di parkir disana. Bila perjalanan diteruskan ke arah selatan, pengunjung bisa naik ke Siti Hinggil, tempat tertinggi di ujung Tanjung Papuma sekitar 50 mdpl. Dari ketinggian ini, pengunjung bisa menyaksikan debur ombak Ganasnya Laut Selatan menyerbu bukit-bukit karang yang terpisah dari pantai. Dari ketinggian ini pula, di sisi utara terhampar ekosistem hutan yang sangat bagus karena terjaga kelestariannya dengan pohon gebang mendominansi. Turun dari Siti Hinggil pantai berbatu di sebelah selatan dan ekosistem hutan di sebelah utara bisa dinikmati sambil berjalan atau berkendara ke arah barat. Di sinilah tampak sekali kekayaan keanekaragaman hayati ekosistem pantai, Formasi Pes-caprae dan Formasi Barringtonia.

DSC_0204

Potensi

Tanjung Papuma menyuguhkan keindahan alam pantai didukung dengan ekosistem pantai yang terjaga. Di bagian timur, pantai berpasir putih terhampar dari utara ke ujung selatan tanjung, Siti Hinggil. Di beberapa tempat terdapat batu karang yang masih utuh ditemani beberapa bongkah batu karang bulat pipih terukir ombak, membentuk pantai batu putih. Tepat di timur Siti Hinggil terdapat batuan besar yang menyerupai kodok dan mahkota Dewa Narada. Kedua batu karang tersebut dinamakan Batu Kodok dan Batu Narada. Di sebelah selatan Siti Hinggil terdapat sebuah bukit batu besar yang menunjukkan bukti-bukti pernah menjadi satu daratan dengan Pantai Malikan. Ada jalur bebatuan yang menciptakan laut sangat dangkal antara pantai dengan batu tersebut. Di kejauhan sebelah barat terdapat beberapa batu-batu besar dan kecil selalu menampilkan semburat air laut yang menerjangnya. Ekosistem pantai menawan akan membuat wisatawan kerasan berlama-lama menikmati pemandangan. Rimbunnya pohon pada formasi baringtonia yang berada di utara Siti Hinggil dimanfaatkan oleh para pedagang menyajikan ikan segar, es kelapa muda, dan aneka ragam kuliner yang menambah kesan wisata alami khas pantai.

DSC_0152

Keelokan Tanjung Papuma dilengkapi dengan ketersediaan fasilitas penginapan ber-AC, tepat istirahat/balairung, bumi perkemahan, kios souvenir, playground, MCK, listrik/air bersih, musholla, dan telepon umum. Dengan adanya fasilitas tersebut, pengunjung bisa lebih betah menikmati pemandangan, bahkan bisa menginap dengan nyaman. Bila sampai menginap, pengunjung bisa menikmati keindahan matahari terbit dan tenggelam. Pada malam hari, suasana pantai semakin menakjubkan karena kehadiran bintang gumintang dan satwa laut yang mampu memendarkan cahaya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s